Tips Menakar Waktu Batita Menonton Televisi
Mempunyai bayi berusia di bawah lima tahun (balita), apalagi di bawah tiga tahun (batita), adalah masa paling membahagiakan. Segala hal diusahakan untuk si kecil, terutama untuk “santapan” otak anak. Rupa-rupa permainan diberikan orangtua untuk merangsang saraf sensorik dan motorik sang buah hati. Bahagia rasanya melihat sang buah hati tumbuh normal.
Banyak tawaran permainan bersifat edukatif untuk tumbuh kembang bayi dan anak. Permainan yang bersifat audio visual lewat video compact disc (VCD), program komputer, atau berbagai tayangan televisi juga makin bervariasi. Kadang hal itu justru membuat orangtua bingung memilih yang terbaik.
Televisi saat ini makin tidak terhindarkan untuk ditonton batita maupun balita. Di tengah gempuran program sinetron, kuis, variety show, infotainment, reality show, juga iklan di televisi, orangtua harus pandai-pandai memilihkan tontonan yang sesuai untuk anak.
“Televisi itu kontroversial jika dikaitkan dengan anak. Televisi dipercaya memberi pengaruh buruk bagi anak kecil. Banyak orang mengeluh soal televisi. Tetapi, televisi walaupun jelek juga tetap ditonton. Ini kenyataan yang tidak terhindarkan,” papar guru besar psikologi Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono, di sela-sela konferensi pers tentang Vision 3 Baby, saluran baru pada televisi berlangganan Indovision.
Pengaruh buruk televisi itu sebenarnya sudah disadari para orangtua. Soal ini pun sudah kerap dibahas dalam berbagai seminar atau diskusi. Namun, apa boleh buat, televisi ternyata tetap menjadi salah satu alternatif tontonan di rumah.
“Anak-anak kecil jadi hafal lagu TTM (Teman Tapi Mesra dari grup Ratu),” kata Sarlito.
Pendampingan
Pendampingan adalah kata yang harus diperhatikan orangtua. Anak menonton televisi boleh, tetapi harus didampingi orangtua. Persoalan menjadi pelik terutama pada orangtua yang keduanya pekerja. Anak akan didampingi pengasuh bayi. Beruntung bagi keluarga yang mempunyai pengasuh bayi yang pintar dan dapat dipercaya. Meski demikian, orangtua tetap harus memberi pengarahan kepada pengasuh bayi sebelum berangkat bekerja.
“Meskipun begitu, kualitas pendampingan memang menjadi jauh berbeda jika dilakukan baby sitter. Maka itu, orangtua yang bekerja sebaiknya tetap menyediakan waktu semaksimal mungkin untuk pendampingan anak menonton televisi,” papar Sarlito.
Dia mencontohkan film seri kartun Tom and Jerry di televisi yang jika ditonton batita bisa memberi pengaruh buruk.
“Kalau Tom dan Jerry sedang pukul-pukulan dan si anak melihat, dia akan langsung menirukan. Ini berbahaya, terutama bagi batita yang belum bisa diberi tahu,” jelasnya.
Dokter Rizal Sini dari Rumah Sakit Bunda Jakarta menambahkan, otak bayi yang lahir ibarat chip yang masih kosong dan harus diisi.
“Saat itulah orangtua yang akan menentukan akan diisi apa chip ini,” tuturnya.
Channel Vision 3 Baby di Indovision menawarkan tontonan untuk batita tanpa iklan yang bisa diakses dengan cara berlangganan. Ini menjadi salah satu alternatif selain berbagai film kartun yang ditayangkan hampir semua stasiun televisi.
Program Vision 3 Baby antara lain berupa baby art, animasi dengan waktu lima menit per episode. Program menceritakan penciptaan suatu gambar dari awal hingga akhir. Lalu ada bouncy balls, wooly, jammers, dan whoâ??s it whatâ??s it. Ini program dwibahasa sehingga orangtua bisa memilih bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.
Waktu dibatasi
Sarlito menekankan pentingnya dosis menonton televisi bagi batita, selain isi dan tentu saja pendampingan orangtua.
“Sepuluh menit sudah cukup untuk anak menonton televisi. Televisi akan memberi pengaruh positif jika dibatasi waktunya, ada waktu maksimumnya,” tegas Sarlito.
Kepala Divisi Informasi Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia Bobi Guntarto justru menyarankan agar bayi usia nol sampai tiga tahun tidak perlu diberi suguhan televisi. Untuk anak SD pun televisi hanya boleh ditonton selama dua jam sehari.
“Televisi sering dianggap sebagai hiburan, padahal merusak kalau enggak diatur. Alihkan ke bentuk kegiatan lain. Makanya, kami akan mencanangkan hari tanpa TV saat Hari Anak tanggal 23 Juli nanti,” kata Guntarto.
Dokter spesialis anak Mulya Karyanti berpendapat sama. Dosis menonton harus diberikan dengan tepat demi kesehatan bayi. Sebenarnya bayi usia nol sampai enam bulan belum bisa membedakan warna dan televisi tidak begitu berpengaruh.
“Anak di bawah satu tahun belum fasenya untuk menonton televisi,” ujarnya.
Pada anak usia satu hingga tiga tahunlah waktu menonton harus dibatasi.
“Kalau lebih dari 10 menit, ya pokoknya kurang dari setengah jam. Ini harus diusahakan,” kata Mulya.
Jika terlalu lama menonton televisi (ini bisa juga VCD, apalagi komputer), lanjut Mulya, mata anak akan cepat lelah dan tidak sehat. Mata yang lelah akan berpengaruh pula pada saraf otak.
“Otot mata akan terus berkontraksi dan letih. Si anak bisa tidak menyadari hal itu karena asyik menonton, tetapi akibatnya mata anak bisa menjadi minus. Jika ini terjadi pada anak yang keluarganya mempunyai kelainan mata silindris, mata anak pun akan minus. Apalagi jika jarak menonton televisi yang 10 kali ukuran layar televisi tidak diperhatikan,” papar Mulya.
Menurut Sarlito, bahkan program batita seperti di Vision 3 Baby yang sudah dirancang dengan konsep matang pun bisa menjadi berpengaruh jelek bagi si anak jika dosis tidak ditakar. Dosis ini akan meningkat seiring dengan pertambahan usia anak. Sampai menjadi dewasa, orang baru akan dapat mengukur sendiri waktu menonton televisi.
Maka, sebelum anak telanjur “maniak” televisi, mulailah batasi dari sekarang….
Televisi Sehat untuk Anak
Kampanye televisi sehat sedang dicoba untuk digalakkan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI). Intinya, anak-anak harus dikawal ketat oleh orangtua ketika menonton televisi. Tidak hanya televisi sehat, YKAI bahkan mencanangkan Hari Tanpa Televisi pada Hari Anak tanggal 23 Juli 2006 ini. Dalam sehari itu, oranguta diharapkan dapat mengajak anak-anaknya sama sekali tidak menonton televisi.
Kepala Divisi Informasi YKAI Bobi Guntarto mengatakan, saat ini televisi susah dihindari anak-anak, apalagi jika mereka hanya ditunggui pengasuh saat orangtua bekerja. Karena itu, yang penting bukan melarang anak menonton televisi, tetapi mengatur dengan membatasi waktu menonton.
Beberapa saran mungkin berguna:
- Diusahakan tidak meletakkan televisi di kamar, terutama kamar anak, karena akan membuat anak terbiasa dengan kehadiran televisi, bahkan hingga untuk menemani tidur. Ini harus dihindari.
- Jika mau membatasi waktu menonton, usahakan seketat mungkin. Untuk anak di bawah tiga tahun, maksimal waktu menonton adalah setengah jam sehari dengan sepuluh menit per sesinya.
- Orangtua sebaiknya menemani anak menonton dan memilihkan saluran yang tepat meski itu sulit ditemui. Pada saat iklan, orangtua juga wajib menjelaskan.
- Televisi bukan alat pengganti pengasuh bayi. Jadi, jika anak sedang rewel dan menangis, sebaiknya jangan dihibur dengan televisi. Cari kegiatan lain yang lebih bermanfaat.
- Anak agar tidak diberi tontonan yang agresif, yang memicu anak mencontoh. Untuk anak di bawah lima tahun, tontonan agresif seperti kartun Tom and Jerry, misalnya, tidak dianjurkan. Selain belum menangkap humornya dengan tepat, anak akan dengan mudah meniru adegan pukul-pukulan di dalamnya. ***
Sumber : balita-anda.com
Artikel yang berhubungan:
Kata Kunci Pencarian Untuk Artikel Ini:
- orang tua pendampingan nonton tv
- pengaruh bayi nonton tv
- pengaruh menonton tom & jarry
- 10 tayangan tv yang dihindari
- kampanye pintar nonton tv untuk anak-anak
- pengaruh tv pada bayi
- pengertian pendampingan anak melihat tv
- tips agar anak tidak terpengaruh kartun
- tips memakai pengasuh bayi
- tips menemani anak nonton tv

