Biar daging ayam tak berkolesterol tinggi
Biar daging ayam tak berkolesterol tinggi
Kini, kandungan kolesterol pada ayam potong dan petelur bisa
diminimalkan. Caranya dengan melalui proses fermentasi mikroba pada
pakan ternak tersebut.
Telah jamak diketahui bahwa ayam potong dan petelur mengandung
kolesterol yang tinggi dalam daging dan telurnya. Kandungan itu bisa
mencapai 200 miligram atau bahkan lebih. Bandingkan dengan ayam kampung
yang kandungan kolesterolnya hanya 100-120 miligram. Tak mengherankan
jika masyarakat, yang cenderung mengonsumsi fried chicken, misalnya,
sering terjangkiti penyakit jantung koroner dan arterus klerosis
(penyumbatan pembuluh darah).
Kenyataan inilah yang melatarbelakangi DR. Sujono, dosen Fakultas
Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (Fapet UMM), mencari solusi
untuk meminimalisasi kandungan kolesterol pada ayam potong dan petelur.
Setelah mendapatkan formulanya pada 2001 lalu, sebagai tema disertasi
untuk gelar doktornya, kini paten atas temuan tersebut sudah diurus
oleh Lembaga Penelitian UMM.
Ada sejumlah alternatif yang dipikirkannya menjelang percobaan.
Pertama, melalui rekayasa genetik. Namun, setelah menganalisis dan
memperhitungkan biaya, Pembantu Dekan (PD) III Fapet UMM ini memutuskan
untuk tidak menempuh cara ini. Terlalu mahal dan njlimet, ujarnya.
Pilihan berikutnya melalui pakan ternak yang dikonsumsi ayam potong dan
petelur ini. Di dalam pakan ternak tersebut terdapat sejumlah campuran
misalnya jagung, polar, tepung ikan, dan bekatul atau katul. Ternyata,
campuran bekatul ini dalam pakan ternak tergolong yang paling besar.
Untuk ayam petelur sekitar 10-20% dan 10-15% pada ayam potong.
Selain harus mempertahankan kapa-sitas produksi, pilihan tersebut juga
relatif lebih murah. Menurut Sujono, guna mempertahankan kapasitas
produksi, energi dalam pakan harus dipertahankan dalam kadar tertentu,
yaitu 2.800-2.900 kalori/kilogram. Kandungan protein pun harus mencapai
kadar 17-18%.
MENGANDALKAN FERMENTASI MIKROBA
Inti percobaan yang dilakukan Sujono ini adalah mengurangi kandungan
asam lemak jenuh di dalam pakan menjadi asam lemak tak jenuh. Salah
satu jenis dari asam lemak tak jenuh ini adalah omega 3 yang mengandung
DHA (duksoheksaenot) dan EPA (eicosapentaenoate). Zat ini dalam susu
bayi berguna untuk memicu perkembangan otak karena berkemampuan
menyusun dinding sel neuron. Juga, berkhasiat mencegah penuaan dini dan
menghambat penyumbatan pembuluh darah serta mencegah jantung koroner.
Omega 3 banyak terdapat dalam minyak ikan terutama ikan laut seperti
salmon dan tuna, serta hasil fermentasi mikroba. Sujono tidak berniat
memanfaatkan ikan laut karena biayanya mahal. Bayangkan, untuk membuat
pakan ternak diperlukan berliter-liter minyak ikan dengan harga per
liter Rp 10-12 ribu. Tentu ini sangat memberatkan peternak.
Karena itu, ia lebih mengandalkan pemanfaatan fermentasi mikroba untuk
menghasilkan dan meningkatkan kadar omega 3 dalam pakan ternak. Jamur
yang dipakai adalah jamur tempe (rhizopus oligosporus) dan jamur
aspergillus niger (jamur yang biasa digunakan untuk fermentasi bahan
kecap).
Prosesnya terbilang sederhana. Untuk menghasilkan pakan ternak 100
kilogram, diperlukan sekitar 20 kilogram bekatul, jagung 30-40
kilogram, tepung ikan dengan komposisi 8-10%, vitamin dalam bentuk
premix (vitamin dan asam amino yang sudah jadi) sebanyak 0,5-1%, polar
atau sejenis bekatul yang terdapat dalam gandum sebanyak 3-5%, serta
bahan-bahan lainnya dalam komposisi rendah.
Bekatul dikukus lebih dulu. Setelah masak, lalu didinginkan. Kemudian,
ditambahkan jamur yang akan membantu proses fermentasi. Komposisinya
2-3% dari 20 kilogram bekatul. Campuran ini diletakkan dalam wadah yang
kemudian ditutup rapat dengan plastik. Pokoknya dibuat dalam kondisi
anaerob (tanpa oksigen),ujar Sujono.
Setelah didiamkan sekitar 3-4 hari, mikroba akan tumbuh dan bercampur
dengan bekatul sehingga menghasilkan bekatul fermentasi. Percobaan ini
dikatakan berhasil jika bekatul fermentasi yang terbentuk mengeluarkan
bau yang segar seperti bau alkohol atau tape. Jika gagal, maka bau
busuk yang keluar dari fermentasi bekatul tersebut. ââ?¬ÂIni terjadi jika
pada saat proses fermentasi terjadi kebocoran karena wadah tidak
tertutup rapat,�ujarnya.
Selanjutnya, bekatul fermentasi ini siap untuk dicampurkan dalam pakan
ternak. Tingkat kebutuhan bekatul fermentasi berbeda untuk setiap jenis
ayam. Untuk ayam petelur sekitar 100-115 gram/hari/ekor. Sementara itu
untuk ayam potong dibutuhkan lebih banyak, sekitar 115-150
gram/hari/ekor.
AYAM ARAB LEBIH UNGGUL
Hal lain yang disiapkan Sujono dalam proses percobaan itu adalah 100
ekor ayam arab. Ia memilih jenis ini karena mempunyai berbagai
keunggulan dibanding ayam ras biasa, apalagi ayam kampung.
Menurut Sujono yang telah melakukan penelitian secara mendalam tentang
ayam arab, keunggulan unggas ini terletak pada produksi telurnya yang
tinggi, yaitu sekitar 250 butir per tahun tanpa mengerami. Ini lebih
tinggi jika dibandingkan dengan ayam ras biasa yang hanya 200-250 butir
telur per tahun tanpa mengerami. Keunggulan lainnya, konsumsi pakan
ayam arab ini lebih sedikit, 90-100 gram/ekor/hari. Sementara itu untuk
ayam biasa, konsumsinya bisa mencapai 110-120 gram. Secara genetis,
ayam arab ini sangat stabil, ujar pria kelahiran Karanganyar, Solo,
39 tahun silam itu.
Setelah dilakukan selama 3 bulan, hasilnya cukup luar biasa. Kandungan
kolesterol pada daging dan telur mengalami penurunan hingga mencapai
40%, adapun kandungan kolesterol sebelumnya sekitar 200 miligram.
Menurunnya kadar kolesterol ini, kata Sujono, karena meningkatnya kadar
omega 3 hingga mencapai komposisi 30%.
Selain itu, protein juga mengalami peningkatan hingga 30%, dan
kapasitas produksi telur juga mengalami kenaikan 25-50%. Ini karena
peningkatan suplai asam amino bebas yang bermanfaat membentuk kuning
telur serta meningkatnya kadar mineral yang mengandung kalsium dan
fosfor yang berguna membentuk kulit telur. Ternyata, peningkatan
kualitas ayam berbanding lurus dengan peningkatan konsumsi bekatul
fermentasi,kata Sujono. Namun, pada komposisi 30-40% bekatul tidak
ada peningkatan kuantitas ayam secara signifikan.
Peningkatan biaya produksi untuk fermentasi bekatul sekitar Rp 50-75
per kilogram. Kenaikan ini lebih rendah jika dibandingkan dengan
pengolahan dengan minyak ikan untuk menghasilkan omega 3 yang bisa
mencapai Rp 200 per kilogram.
Sejak awal harga pakan ini memang tergolong tinggi karena tepung ikan
dan bungkil kedelai yang menjadi campuran pakan masih diimpor. Kualitas tepung ikan di Indonesia sangat jelek. Selain kadar
garamnya tinggi, kandungan proteinnya juga sangat rendah, ujar
alumnus Universitas Diponegoro ini.
Namun, apa pun kendalanya, percobaan ini merupakan terobosan baru dalam
meminimalisasi kadar kolesterol pada ayam potong dan petelur.
Sekaligus, memberikan kontribusi bagi kesehatan masyarakat atas pola
makan yang cenderung tidak sehat itu.
Sumber : www.majalahtrust.com
Tidak ada artikel yang berhubungan.
Kata Kunci Pencarian Untuk Artikel Ini:
- bekatul fermentasi
- makanan berkolesterol tinggi
- fermentasi bekatul
- jenis makanan berkolesterol tinggi
- komposisi daging ayam
- buah berkolesterol
- tutorial beternak ayam kampung
- games potong daging dan ayam
- polar pakan ternak
- buah berkolesterol tinggi

